Pernah dengar nasihat, “Kalau dipanggil saat sendirian di tempat sepi, jangan langsung menoleh”? Biasanya larangan ini muncul dari cerita orang tua, teman, atau kisah horor yang bikin bulu kuduk auto berdiri. Katanya, kalau nekat menoleh, bisa saja yang memanggil bukan manusia. Alhasil, ketika jalan sendirian malam-malam lalu terdengar suara memanggil nama, refleks pertama justru mikir, “Waduh, jangan-jangan…” Tapi sebenarnya, dari mana sih kepercayaan ini berasal, dan apakah ada penjelasan yang lebih masuk akal?
1. Berasal dari tradisi dan cerita turun-temurun. Larangan seperti ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari folklore atau kepercayaan masyarakat. Dalam budaya yang memiliki cerita tentang makhluk gaib, tempat sepi sering dianggap sebagai lokasi yang “rawan”, sehingga suara misterius di sana dikaitkan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Karena cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, nasihat “jangan menoleh” akhirnya terdengar seperti aturan yang harus dipatuhi, meskipun tidak memiliki bukti ilmiah bahwa menoleh dapat mengundang makhluk tertentu.
2. Otak memang sangat sensitif terhadap suara yang terdengar seperti nama sendiri. Nama kita merupakan rangsangan yang sangat relevan secara pribadi. Penelitian menunjukkan bahwa mendengar nama sendiri dapat menarik perhatian secara otomatis, bahkan ketika seseorang sedang fokus pada suara atau aktivitas lain.
3. Tempat sepi justru bikin suara kecil terasa lebih “dramatis”. Saat lingkungan minim suara, otak lebih mudah memperhatikan bunyi-bunyi samar. Suara angin, ranting, hewan, atau gema dapat terdengar seperti potongan suara manusia.
4. Ada fenomena yang disebut auditory pareidolia. Ini terjadi ketika otak mencoba menemukan pola atau makna dari suara yang sebenarnya ambigu. Karena otak manusia terbiasa mengenali suara dan bahasa, bunyi acak kadang bisa terasa seperti seseorang sedang memanggil nama kita.
5. Jadi, menoleh sebenarnya bukan tindakan “terlarang” secara ilmiah. Tidak ada bukti ilmiah bahwa menoleh setelah mendengar panggilan di tempat sepi otomatis menyebabkan seseorang mengalami kejadian gaib. Yang lebih mungkin terjadi adalah kita sedang merespons rangsangan suara yang dianggap penting oleh otak.
Yang menarik, respons spontan ketika mendengar nama sendiri ternyata memang punya dasar biologis. Penelitian menggunakan pencitraan otak menemukan bahwa suara nama sendiri dapat melibatkan jaringan perhatian dan pemrosesan suara, bahkan ketika seseorang tidak sedang sengaja memperhatikan panggilan tersebut. Dalam eksperimen lain, peserta yang mendengar nama mereka di tengah suara lain juga menunjukkan perubahan perhatian. Jadi, kalau kamu sedang jalan sendirian lalu merasa ada yang memanggil, kemudian refleks berhenti atau menoleh, itu belum tentu karena ada sesuatu yang misterius. Bisa jadi otakmu memang sedang menjalankan sistem “eh, kayaknya ada yang manggil gue”. Menariknya lagi, penelitian terbaru menunjukkan nama sendiri memang cenderung lebih mudah menarik perhatian dibanding nama lain dalam kondisi tertentu.
Pada akhirnya, “jangan menoleh saat dipanggil di tempat sepi” lebih dekat dengan kepercayaan dan folklore daripada fakta ilmiah. Meski begitu, kalau berada di tempat benar-benar sepi atau gelap, tetap waspada adalah pilihan yang masuk akal—bukan karena takut makhluk gaib, tetapi karena kita memang tidak tahu siapa atau apa yang menghasilkan suara tersebut. Jadi kalau suatu malam mendengar suara memanggil nama, nggak perlu langsung panik. Cek situasi dengan aman, gunakan logika, dan jangan biarkan cerita horor mengambil alih pikiran.