Pernah nggak sih, lagi nonton tim kesayangan main, tapi rasanya kayak kita sendiri yang ikut bertanding? Baru lawan nyerang saja jantung sudah berasa balapan, apalagi kalau tim kebobolan di menit-menit akhir. Padahal kita cuma duduk di sofa atau di tribun, nggak ikut lari mengejar bola. Tapi anehnya, ketika tim kalah, mood bisa langsung anjlok seharian. Ternyata, rasa tegang dan kecewa itu bukan sekadar “baper sebagai suporter”. Otak memang punya cara sendiri untuk membuat kita merasa terhubung dengan tim yang didukung. Penelitian bahkan menemukan bahwa menonton pertandingan dapat memicu perubahan detak jantung dan respons stres pada penonton.
1. Otak menganggap tim sebagai bagian dari “kelompok kita” — Ketika seseorang sudah merasa sangat terikat dengan klub, identitas pribadi dan identitas sebagai suporter bisa saling menyatu. Karena itu, kemenangan tim terasa seperti kemenangan pribadi, sementara kekalahan bisa terasa seperti kehilangan. Penelitian tentang fandom menunjukkan bahwa semakin kuat keterikatan seseorang dengan tim, semakin besar pula respons emosional yang dapat muncul saat pertandingan.
2. Otak ikut memproses gerakan pemain — Saat melihat pemain berlari, menendang, atau gagal mencetak gol, area otak yang berkaitan dengan pengamatan gerakan dan respons tubuh dapat ikut aktif. Mekanisme ini sering dikaitkan dengan sistem “mirror neuron”, yang membantu otak memahami atau memetakan tindakan orang lain. Jadi, secara sederhana, melihat pemain jatuh bisa bikin kita ikut meringis.
3. Detak jantung bisa benar-benar naik — Tegang saat pertandingan bukan cuma perasaan. Studi pada penonton sepak bola menemukan tekanan darah dan detak jantung meningkat ketika pertandingan berlangsung, sementara penelitian pada penonton hoki menemukan detak jantung dapat meningkat sangat besar, terutama ketika pertandingan memasuki momen menentukan.
4. Hormon stres ikut bermain — Ketika pertandingan terasa penting dan hasilnya belum pasti, tubuh bisa masuk ke kondisi lebih waspada. Respons stres ini dapat melibatkan hormon seperti kortisol. Penelitian bahkan menemukan penggemar yang sangat berdedikasi dapat menunjukkan pelepasan kortisol lebih tinggi ketika menyaksikan pertandingan secara langsung.
5. Kekalahan diproses sebagai pengalaman emosional yang nyata — Studi menggunakan fMRI menemukan adanya perbedaan aktivitas otak ketika suporter melihat tim favorit menang dibandingkan ketika mereka melihat timnya kalah. Pada kondisi kekalahan, beberapa area yang berkaitan dengan emosi dan pengaturan respons ikut terlibat.
Yang menarik, rasa tegang suporter ternyata bisa muncul bahkan sebelum pertandingan dimulai. Dalam penelitian terbaru menggunakan data smartwatch dari lebih dari 200 penggemar sepak bola, detak jantung dan indikator stres meningkat pada hari pertandingan dibandingkan hari biasa. Respons tersebut juga bisa memuncak ketika pertandingan memasuki momen yang dianggap menentukan. Artinya, buat otak, pertandingan penting bukan sekadar tontonan santai. Ada unsur harapan, ketidakpastian, persaingan, identitas kelompok, dan kemungkinan mendapatkan “hadiah” emosional ketika tim menang. Dopamin juga dikaitkan dengan sistem penghargaan dan bagaimana otak merespons hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan harapan. Bahkan, penelitian terhadap penggemar sepak bola menunjukkan bahwa setelah tim mengalami kekalahan, emosi seperti marah, kecewa, dan sulit rileks dapat meningkat dibandingkan suporter tim yang menang. Jadi kalau pernah merasa “capek” setelah tim kesayangan kalah, itu bukan berarti lebay. Tubuh dan otak memang bisa ikut mengalami respons emosional dari pertandingan.
Pada akhirnya, menjadi suporter memang bukan cuma soal hafal nama pemain atau rajin datang ke stadion. Ketika rasa memiliki terhadap sebuah tim sudah kuat, otak dapat memperlakukan pertandingan sebagai pengalaman sosial yang benar-benar berarti. Jadi, kalau jantung berdebar saat injury time dan mood langsung hancur ketika peluit akhir berbunyi, otak mungkin sedang ikut “main” meskipun badan cuma duduk di kursi.